Siswa-siswa SMK Sukses Rakit Pesawat
Wira Respati dan Noviar Jamal
23/05/2009 21:25
Liputan6.com, Jakarta: Melihat pesawat tentu sudah biasa. Tapi pernahkah Anda melihat pesawat yang dirakit para pelajar sekolah menengah kejuruan?
Hebat. Itu kata pertama yang muncul, saat melihat secara langsung pesawat rakitan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan 29 Jakarta dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Penerbangan Kartika Aqasa Bhakti, Semarang, ini. Siapa yang mengira bahwa para pemuda belia ini bisa merakit burung besi yang benar-benar bisa terbang.
Bahkan, mereka sudah mampu membuat sebagian kecil komponen pesawat. Jabiru j-200, pesawat bermesin tunggal, berbahan bakar pertamax ini, telah berhasil terbang 8 jam tanpa henti, dari Riau ke Malaysia. Tak cukup menjadi sekolah menengah kejuruan pertama yang sukses merakit pesawat, mereka bertekad kelak dapat sepenuhnya membuat pesawat sendiri.
Penasaran dengan ketangguhan Jabiru j-200. Anda bisa menyaksikan langsung di ajang pameran kreasi sekolah menengah kejuruan, yang berlangsung di Pekan Raya Jakarta akhir pekan ini. Tak hanya pesawat, di sini tampil pula beragam produk eksperimen mulai dari mesin hingga komputer yang dibuat oleh tangan-tangan kreatif para pelajar. Jadi, siapa bilang, anak Indonesia tidak berbakat?(ISW)
Senin, 01 Juni 2009
Banyak Siswa Terlambat, Belum Terbiasa Masuk Pagi
Banyak Siswa Terlambat, Belum Terbiasa Masuk Pagi
Kompas, Senin, 5 Januari 2009 | 08:53 WIB
JAKARTA, SENIN — Setelah libur sekolah sekitar dua minggu, pagi ini siswa dari SD hingga SMU mulai masuk sekolah. Jam masuk sekolah mereka pun bergeser dari yang biasanya pukul 07.00 menjadi pukul 06.30. Beberapa siswa belum terbiasa dengan peraturan baru tersebut dan terlihat ada beberapa anak yang terlambat.
“Tadi sih sudah pakai alarm, tapi masih juga kesiangan. Niatnya bangun pukul lima pagi, tapi jam setengah tujuh kurang malah baru bangun, mana orang tua juga gak ngebangunin, jadi deh jam tujuh baru masuk,” tutur Iwan (14), siswa kelas 3 SMPN 185, Kemandoran, Jakarta Barat.
Selain Iwan, tampak juga beberapa siswa baru masuk gerbang SMPN 185 Jakarta. Beberapa dari mereka mengaku kesiangan dan belum terbiasa bangun lebih awal terkait peraturan tersebut.
“Yah, saya sih tak terlalu setuju dengan peraturan masuk pukul 06.30 pagi, karena pulangnya pun malah nanggung, apalagi jam dua masih disambung ekstrakurikuler. Ada waktu satu jam lebih sebelum ekskul, kalau masuk jam tujuh, kan cuma nunggu setengah jam. Yang jelas, waktu istirahat jadi berkurang kan malah ngantuk di kelas,” tutur Indah (13), siswi kelas 3 SMPN 185 Jakarta.
Sedangkan menurut Andi (11), siswa kelas V SDN Palmerah 07 Pagi, masuk sekolah mulai pukul 06.30 tak mengganggu kebiasaannya masuk sekolah lebih pagi. “Kalau datang ke sekolah biasanya jam 06.30, jadi paling cuma geser lima belas menit berangkatnya. Rumah saya dekat dan tak perlu diantar orang tua, jadi enggak masalah,” jelasnya.
Pagi ini SDN Palmerah 07 Pagi masih banyak siswa yang baru tiba di sekolah pukul 07.00 dan pintu gerbang sekolah masih terbuka. Para siswa masih terlihat berbincang di depan gapura sekolah, bahkan beberapa masih ada yang membeli jajanan di luar pintu gerbang sekolah meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30, bahkan beberapa guru pun baru tiba lebih dari pukul 06.30.
“Mungkin karena memang baru pertama kali masuk jadi masih longgar, terlambat sedikit tak apa, kalau besok mungkin sudah ketat lagi. Masih penyesuaianlah apalagi setelah libur dua minggu lebih,” ujar salah satu guru yang enggan disebut namanya.
MYS
Kompas, Senin, 5 Januari 2009 | 08:53 WIB
JAKARTA, SENIN — Setelah libur sekolah sekitar dua minggu, pagi ini siswa dari SD hingga SMU mulai masuk sekolah. Jam masuk sekolah mereka pun bergeser dari yang biasanya pukul 07.00 menjadi pukul 06.30. Beberapa siswa belum terbiasa dengan peraturan baru tersebut dan terlihat ada beberapa anak yang terlambat.
“Tadi sih sudah pakai alarm, tapi masih juga kesiangan. Niatnya bangun pukul lima pagi, tapi jam setengah tujuh kurang malah baru bangun, mana orang tua juga gak ngebangunin, jadi deh jam tujuh baru masuk,” tutur Iwan (14), siswa kelas 3 SMPN 185, Kemandoran, Jakarta Barat.
Selain Iwan, tampak juga beberapa siswa baru masuk gerbang SMPN 185 Jakarta. Beberapa dari mereka mengaku kesiangan dan belum terbiasa bangun lebih awal terkait peraturan tersebut.
“Yah, saya sih tak terlalu setuju dengan peraturan masuk pukul 06.30 pagi, karena pulangnya pun malah nanggung, apalagi jam dua masih disambung ekstrakurikuler. Ada waktu satu jam lebih sebelum ekskul, kalau masuk jam tujuh, kan cuma nunggu setengah jam. Yang jelas, waktu istirahat jadi berkurang kan malah ngantuk di kelas,” tutur Indah (13), siswi kelas 3 SMPN 185 Jakarta.
Sedangkan menurut Andi (11), siswa kelas V SDN Palmerah 07 Pagi, masuk sekolah mulai pukul 06.30 tak mengganggu kebiasaannya masuk sekolah lebih pagi. “Kalau datang ke sekolah biasanya jam 06.30, jadi paling cuma geser lima belas menit berangkatnya. Rumah saya dekat dan tak perlu diantar orang tua, jadi enggak masalah,” jelasnya.
Pagi ini SDN Palmerah 07 Pagi masih banyak siswa yang baru tiba di sekolah pukul 07.00 dan pintu gerbang sekolah masih terbuka. Para siswa masih terlihat berbincang di depan gapura sekolah, bahkan beberapa masih ada yang membeli jajanan di luar pintu gerbang sekolah meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30, bahkan beberapa guru pun baru tiba lebih dari pukul 06.30.
“Mungkin karena memang baru pertama kali masuk jadi masih longgar, terlambat sedikit tak apa, kalau besok mungkin sudah ketat lagi. Masih penyesuaianlah apalagi setelah libur dua minggu lebih,” ujar salah satu guru yang enggan disebut namanya.
MYS
Menuntut Ilmu di Alam Hijau
Menuntut Ilmu di Alam Hijau
08/06/2008 06:34
Liputan6.com, Jakarta: Sekolah Citra Alam di Ciganjur, Jakarta Selatan, menerapkan kurikulum dan lingkungan sekolah menyatu dengan alam. Kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dipadankan? dengan pengenalan lingkungan. Dengan mempraktekkan secara langsung, anak-anak diharapkan dapat mencintai lingkungan sejak usia dini.??
Atas upaya sekolah tersebut mengenalkan kelestarian alam, Kementerian Lingkungan memberi penghargaan Adiwiyata. Program Adiwiyata digelar untuk mendorong kesadaran warga sekolah melestarikan lingkungan. Sepuluh sekolah terpilih setelah menyisihkan 135 sekolah lainnya, baik tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas yang diajukan masing-masing daerah.(RMA/Sufiani Tanjung)
08/06/2008 06:34
Liputan6.com, Jakarta: Sekolah Citra Alam di Ciganjur, Jakarta Selatan, menerapkan kurikulum dan lingkungan sekolah menyatu dengan alam. Kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dipadankan? dengan pengenalan lingkungan. Dengan mempraktekkan secara langsung, anak-anak diharapkan dapat mencintai lingkungan sejak usia dini.??
Atas upaya sekolah tersebut mengenalkan kelestarian alam, Kementerian Lingkungan memberi penghargaan Adiwiyata. Program Adiwiyata digelar untuk mendorong kesadaran warga sekolah melestarikan lingkungan. Sepuluh sekolah terpilih setelah menyisihkan 135 sekolah lainnya, baik tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas yang diajukan masing-masing daerah.(RMA/Sufiani Tanjung)
Langganan:
Postingan (Atom)
